/ September 6, 2018/ BERITA, INFO

Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) IAIN Ponorogo mengadakan Studium Generale yang bertema “Isu-Isu Kontemporer Dalam Studi Tafsir” oleh Dr. Muchlis hanafi, MA (Kepala Lajnah Pentashih Al Qur’an Kemetrian Agama RI dan Penerjemah Kepresidenan) Hari Rabu (5/9) di Graha Watoe Dhakon pada pukul 9.00-12.00.

Rektor IAIN Ponorogo Dr. Hj. S. Maryam Yusuf, M.Ag dan Dr. Muchlis Hanafi, MA berfoto bersama usai penandatanganan MOU

Acara dibuka dengan penampilan hadrah dan pembacaan puisi oleh mahasiswa FUAD IAIN Ponorogo. Acara selanjutnya yakni sambutan oleh Dekan FUAD dan Rektor IAIN Ponorogo. Rektor IAIN Ponorogo, Dr. Hj. S. Maryam Yusuf, M.Ag dalam sambutannya mengatakan ”Saya sangat bangga karena FUAD mempunyai mahasiswa yang berjumlah 696 orang. Sembilan itu angka tertinggi. Menurut filosofi matematika, jadilah angka tertinggi, bukan derajat yang tinggi. Artinya adalah SDMnya yang tinggi. Angka sembilan kali tiga saja dibandingkan angka dua kali tiga akan menghasilkan angka yang jauh lebih tinggi. Untuk itu perlu ditingkatkan SDMnya, bagaimana mahasiswa belajar dengan sungguh-sungguh. Teruslah belajar.”

Dr. Muchlis Hanafi, MA (Kepala Lajnah Pentashih Al-Qur’an Kementrian Agama RI dan Penerjemah Kepresidenan) menjelaskan tentang Isu-Isu Kontemporer dalam Studi Tafsir kepada mahasiswa FUAD IAIN Ponorogo.

Kemudian acara dilanjutkan dengan penandatanganan MOU dan dilanjutkan dengan pemaparan materi sesuai tema oleh Dr. Muchlis Hanafi, MA. Dalam kuliahnya, Dr. Muchlis Hanafi, MA mengatakan “Persoalan pembacaan kontemporer terkait ke kajian linguistik. Semuanya harus mengerti tafsir. Tidak hanya IAT tapi juga KPI terutama ditengah maraknya ekstrimisme dan radikalisme dalam kehidupan beragama.” Hal ini dijelaskan lebih lanjut sebagai pentingnya memahami studi Al-Qur’an yang merupakan cabang keilmuan yang sangat dinamis. Tidak mudah memetakannya, baik berdasarkan kecenderungan dan metode maupun periodisasi alam prekembangannya.

Dekan FUAD IAIN Ponorogo memberikan sambutan sebelum Studium Generale oleh narasumber dimulai

Dengan demikian, Al-Qur’an sebagai hidayah akan terus membimbing umat manusia sesuai petunjuk ilahi seiring perkembangan zaman. Sebagai sebuah teks keagamaan Al-Qur’an terbuka untuk didekati dengan berbagai metode dan pendekatan. Tentu dengan tetap memperhatikan karakternya sebagai kitab suci dan teks yang berbahasa arab. Oleh karenanya, prinsip-prinsip keagamaan dan kebahasaan adalah dua hal yang perlu diperhatikan dalam setiap tafsir dan pembacaan. Admin