Mendalami Kajian Metode Penelitian di Negeri Kanguru

Melbourne (18/11/2019), memasuki minggu ketiga masih diiringi dengan semangat dan antusias dari kesepuluh peserta Short Course Overseas Research Methodology tahun 2019 di Monash University, Melbourne Australia. Program tahunan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam ini merupakan sarana sekaligus tantangan bagi peserta untuk bergaul dan bekerja bersama dengan komunitas yang berbeda secara bahasa dan budaya (to work in different languages and cultures). Kesepuluh peserta berasal dari institusi berbeda diantaranya yaitu Yaser Syamlan (STEI Tazkia Bogor), Siti Rodiah (UIN Raden Fatah Palembang), Mashuri Masri (UIN Alauddin Makassar), Mahmudi (INSTIKA An-Nuqayah Guluk-Guluk Sumenep), Nuril Hidayah (STAI Muhammadiyah Probolinggo), Umma Farida (IAIN Kudus), Anis Hidayatul Imtihanah (IAIN Ponorogo), Nurhidayah (IAI NU Kebumen), Miftahul Huda (UIN Maliki Malang), Ratih Rizqi Nirwana (UIN Walisongo Semarang).

Selama dua minggu pertama, kesepuluh peserta secara mendalam mendapatkan materi tentang metode penelitian. Di sesi awal pertemuan, peserta mulai diperkenalkan dengan teknik dasar metode penelitian oleh Prof. Ariel Heryanto dengan memberikan tujuh point rencana penelitian (research plan) meliputi judul, inti persoalan, signifikansi penelitian, latar belakang (opsional), objek materi yang dikaji, hipotesis, dan referensi. Beliau juga menyampaikan tradisi penulisan proposal di Australia yang sangat jauh berbeda dengan Indonesia. Draft artikel umumnya ditulis dalam model yang compact and straight forward serta dibatasi maksimal 1000 kata. Selanjutnya Prof. Jullian Millie memberikan teknik melakukan wawancara dalam penelitian. Dalam hal ini beliau juga menyinggung tentang pentingnya pendekatan normatifitas dan historisitas.

Hal yang sangat menarik dan unik juga kami dapatkan dari Dr. Susanne Protschky yang menjelaskan pendekatan sejarah dalam metode penelitian yang selama ini hampir jarang digunakan di Indonesia. Dalam hal ini, Dr. Susanne Protschky menyatakan bahwa penggunaan fotografi dalam penelitian sangat membantu dalam pemahaman sejarah. Fungsi fotografi bukan hanya bersifat komersial, namun sangat penting dalam penelitian sejarah. Selain itu, ketika mengumpulkan data gambar, peneliti dituntut kritis pada data-data tersebut dengan banyak bertanya pada orang-orang yang mengetahui secara mendalam terhadap gambar tersebut.

Hari berikutnya diisi oleh akademisi dari Turki, Dr. Aydogan Kars. Pada sesi ini peserta short course diajari bagaimana menggunakan pendekatan dalam penelitian agama yang juga merupakan isu sensitif. Dalam hal ini, sebaiknya peneliti menggunakan dua lensa yaitu insider dan outsider. Jika naskah riset ingin masuk pada jurnal internasional, maka perspektif outsider juga harus diperhatikan. Dengan kata lain, ketika melakukan suatu penelitian dalam waktu yang bersamaan kita harus bisa memposisikan diri sebagai insider sekaligus outsider.

Kemudian selama dua hari berturut-turut materi tentang metode penelitian kembali disampaikan oleh Dr. Barbara Barbosa Neves seorang sosiolog berdarah Portugal dengan tema Presenting Qualitative, Quantitative and Mixed Methods Study Designs. Materi dikemas dengan sangat menarik oleh Dr. Barbara sehingga mudah untuk kami cerna. Metode kuantitatif dalam penelitian fokus pada pola hitungan (quantification) dalam pengumpulan data dan analisis. Tekniknya melalui  survey, eksperimen, statistik. Sedangkan metode kualitatif fokus pada uraian kata-kata dan gambar, tekniknya dengan wawancara, observasi, analisis tematik dan diskursus. Selain menjelaskan secara panjang lebar tentang metode kualitatif dan kantitatif dalam penelitian, kami juga mendiskusikan tentang mixed methods yang selama ini hampir jarang diulas di perguruan tinggi kami. Hal tersebut menjadi kajian yang sangat menarik sekaligus menunjukkan interdispliner keilmuan di mana antar disiplin ilmu bisa saling melengkapi satu sama lain. Semoga menginspirasi dan selamat berkarya !! (Anis)

Translate »