Pelepasan PPL Mahasiswa PPG PAI IAIN Ponorogo

Ponorogo–Kegiatan sosialisasi dan pelepasan PPL (Program Pengalaman Lapangan) mahasiswa PPG (Pendidikan Profesi Guru) dalam Jabatan tahun anggaran 2019 diselenggarakan di Graha Watoe Dhakon IAIN Ponorogo pada Hari Kamis, 17 Oktober 2019. Sebanyak 165 orang mahasiswa guru madrasah dan guru PAI di sekolah mengikuti kegiatan ini. Dihadiri oleh Rektor IAIN Ponorogo Dr. Hj. Siti Maryam Yusuf, M.Ag, Dr. Ahmadi Bardan, M.Ag selaku Dekan FATIK IAIN Ponorogo beserta pimpinan IAIN Ponorogo, hadir pula pengarah PPG IAIN Ponorogo, guru pembimbing di sekolah dan madrasah, serta instruktur pembimbing PPL di sekolah dan madrasah.

Para peserta PPL PPG PAI IAIN Ponorogo menyanyikan Lagu Indonesia Raya bersama-sama

Dalam sambutan yang sekaligus membuka acara sosialisasi dan pelepasan, Rektor IAIN Ponorogo Dr. Hj. Siti Maryam Yusuf, M.Ag berpesan pada seluruh mahasiswa calon peserta PPL yang akan bertugas di berbagai sekolah dan madrasah, agar mengemban tugas PPL sebaik mungkin berdasarkan pedoman yang ada, menjaga nama baik pribadi, asal sekolah, dan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Ponorogo dan bisa lulus semuanya dengan hasil yang memuaskan.

Rektor IAIN Ponorogo Dr. Hj. Siti Maryam Yusuf, M.Ag memberikan sambutan sekaligus mengantar pelepasan PPL PPG PAI IAIN Ponorogo

Kegiatan PPL ini dilaksanakan yaitu dari 21 Oktober 2019 sd 02 November 2019, dimana kegiatan PPL ini merupakan ajang memantapkan praktek pembelajaran dan mengimplementasikan perangkat pembelajaran yang telah dipersiapkan dalam kegiatan PPG guna memperoleh kompetensi profesional sebagai guru. (Humas IAIN Ponorogo)

Selengkapnya kunjungi

Website : www.iainponorogo.ac.id

Facebook : IAINPonorogo

Instagram : @humas_iain_ponorogo

Twitter : @Ponorogo_IAIN

Menjaga Pintu Kedaulatan Negara dan Peran Publik Dalam Pengawasan Orang Asing

Dalam upaya untuk menjaga pintu kedaulatan Negara Republik Indonesia dalam pengawasan orang asing Fakultas Syariah IAIN Ponorogo mengadakan kuliah umum yang di hadiri dan di isi oleh Hendrya Widjaya, A.Md.Im., S.H. Kepala Kantor Imigrasi Kelas III Non TPI Ponorogo. Kegiatan tersebut berlangsung pada hari Rabu (16/10) di Aula Fakultas Syariah.


Perlunya menjaga pintu kedaulatan negara  untuk menghindari potensi ancaman yang masuk dari berbagai sudut seperti narkoba, penyelundupan manusia, terorisme, dan potensi ancaman lain. Pengawasan orang asing tidak hanya dilakukan pada saat mereka masuk, tetapi juga selama mereka berada di Wilayah Indonesia, termasuk kegiatannya. Pengawasan Keimigrasian mencakup penegakan hukum Keimigrasian, baik yang bersifat administratif maupun tindak pidana Keimigrasian.

   Dalam kaitan dengan perlintasan orang asing masuk dan keluar wilayah Republik Indonesia, CIQ (Custom, Immigration, Quarantine) merupakan pemangku kepentingan utama dalam pelaksanaan pengawasan terhadap orang, barang, tanaman/hewan. Pengawasan orang asing merupakan tanggung jawab bersama  sesuai tugas dan fungsi masing-masing Kementerian atau Lembaga dari tingkat nasional sampai dengan tingkat daerah.

Menurut UU no 6 tahun 2011 tentang Keimigrasian, dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, Direktorat Jenderal Imigrasi melaksanakan pengawasan keimigrasian terhadap Warga Negara Asing dan Warga Negara Indonesia. Pengawasan WNI dilakukan saat Proses pemohonan paspor, saat masuk/keluar wilayah Indonesia, dan saat keberadaan di Luar Negeri. Untuk pengawasan terhadap WNA dilakukan Pada saat pengajuan telex visa di Direktorat Jenderal Imigrasi maupun pengajuan visa di perwakilan RI diluar negeri, Masuk dan keluar di TPI (Tempat Pemeriksaan Imigrasi) atau PLB (Pos Lintas Batas), Pemberian Izin Tinggal, dan Serta pengawasan terhadap keberadaan dan kegiatannya selama berada di Indonesia.
Kuliah umum tersebut diikuti oleh kurang lebih 200 mahasiswa beserta dosen Fakultas Syariah IAIN Ponorogo. Sebelum materi disampaikan oleh Hendrya Widjaya, A.Md.Im., S.H. Kepala Kantor Imigrasi Kelas III Non TPI Ponorogo terlebih dahulu diisi dengan penampilan musik dari mahasiswa/i Fakultas Syariah.

Penandatangan Kerjasama IAIN Ponorogo dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Prov Jawa Timur.

 

Rasa Syukur perlu diutarakan bersama, atas terselengarakannya kerja sama antara IAIN Ponorogo dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Timur (BAlitbang Jatim). Demikian hal yang diutarakan Pimpinan tertinggi IAIN Ponorogo pada acara penandatangan naskah kerja sama IAIN Ponorogo dengan Balitbang Jatim, Kamis 17 Oktober 2019. Bertempat di di Aula Pasca Sarjana Ibu Dr. Hj. S. Maryam Yusuf, M.Ag. selaku Rektor mengatakan terimakasih atas kepercayaan Pemerintah kepada IAIN Ponorogo yang kali ini melalui Balitbang Jatim. Kerjasama kali ini berlingkup pada penelitian dan pengembangan.

Lebih lanjut Ibu rektor mengtatakan kenapa pasca sarjana yang kali jni diberi ruang dikarenakan  pasca sarjana merupakan gudang keilmuan. Dengan dasar itulah diharapkan kerjasama ini berjalan dengan baik dan mendapatkan hasil yang maksimal nantinya. Orang Nomor satu di lingkungan kampus IAIN tersebut berharap hasil penelitian-penelitian nantinya yang berkualitas, agar bisa bermanfaat bagi semua ke depannya.

Penandatangan naskah perjanjian ini antara pihak Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Timur dan Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. Dari pihak Balitbang Jatim kali ini diwakilkan oleh Bapak Drs. Teguh Prayitno, MM (Kepala Bidang Pengembangan Kemitraan dan SIDa BALITBANG Provinsi Jawa Timur ). Bapak Teguh selaku wakil dari Agus Wahyudi, SH, M.Si (Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Timur) selaku Pihak Pertama. Sedangkan dari IAIN Ponorogo secara langsung diwakili oleh Ibu Rektor Dr. Hj. S. Maryam Yusuf, M.Ag. Ibu rektor selaku pihak Kedua. (Humas IAIN Ponorogo)

 

 

Visit us at:
Website : www.iainponorogo.ac.id
Facebook : IAINPonorogo
Instagram : @humas_iain_ponorogo
Twitter : @Ponorogo_IAIN

Perkuat koordinasi melalui FGD, IAIN Ponorogo Tingkatkan Administrasi Kearsipan dan Kehumasan

Guna untuk meningkatkan administrasi persuratan/kearsipan dan juga soal kehumasan, IAIN Ponorogo melaksanakan Forum Group Discussion (FGD) yang bertemakan Pengelolaan Administrasi Umum (Tata kelola Persuratan dan Kehumasan) Senin sampai Selasa, 14-15 Oktober 2019. Bertempat di Hotel Merah Telaga Sarangan, Magetan. Dalam pembukaannya, Ibu Rektor IAIN Ponorogo yang menghadiri langsung acara ini mengungkapkan rasa syukurnya atas terselenggarakannya acara ini. Beliau mendukung penuh kegiatan seperti ini guna meningkatkan kualitas IAIN Ponorogo.

Ibu Maryam memberi arahan untuk melaksanakan acara ini dengan baik dikarenakan keadministrasian merupakan hal penting sebuah institusi. Selain itu, Kehumasan perlu ditata karena sebuah institusi juga terkenal karena Humasnya. “Kehumasan perlu ditata, sebab institusi itu terkenal karensa kehumasannya. Baik kehumasan secara internal maupun juga kehumasan secara eksternal”, demikian arahan Ibu Rektor.

Acara FGD ini berlangsung selama dua hari, dengan mendatangkan dua pembicara dari dua bidang berbeda sesuai focus diskusi. Pertama adalah Muhammad Mahyudin, S.H. M.A., pembicara dalam diskusi mengenai kehumasan. Kepala Bagian Tata Usaha UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini memberikan pengalaman-pengalamannya mengenai kehumasan yang selama ini dilakukan di lingkungan kampusnya. Hal-hal teknis disampaikan, khususnya mengenai pengelolaan informasi melalui media sosial. Pentingnya memfokuskan pengelolaan informasi melalui media massa dikarenakan era saat ini tak lepas dari perkembangan informasi yang cepat melalui sosmed. Generasi sekarang banyak menggunakan media sosial sebagai alat untuk mendapatkan informasi menjadi sebab kita harus intens mengelola media social. Dengan data-data yang rinci dan detail beliau menjelaskan kesemuanya itu.

Yang kedua, sebagai pembicara dalam bidang administrasi persuratan(kearsipan) adalah Isti’lamah Laili, S.Sos. beliau Arsiparis Teladan Kementerian Agama (Kemenag). Administrasi persuratan era sekarang ini perlu ditata dengan baik, mengingat kearsipan menjadi bagian penting sebuah kegiatan. Perempuan yang keseharian mengurus kearsipan di IAIN Surakarta ini memberikan pengarahan-pengarahan teknis mengenai kearsipan, dan memberikan informasi pembaharuan-pembaharuan mengenai kearsipan. Peraturan-peraturan terbaru mengenai teknis dan terobosan yang dilakukan guna menanggulangi permasalah  yang mungkin terjadi.

Dua pembicara professional tersebut memberi pembelajaran dan gambaran untuk meningkatkan kehumasan dan kearsipan di lingkungan IAIN Ponorogo. Banyak ide dan gagasan muncul dari peserta FGD sendiri setelah mengikuti materi keduanya. Selain itu diperlukan koordinasi lebih lanjut dari semua pihak yang terlibat. Program-program terbaru juga diperlukan guna meningkatkan kearsipan dan kehumasan di lingkungan IAIN Ponorogo. Hal tersebutlah yang menjadi Focus Group Discussion pada hari kedua acara ini. (Humas IAIN Ponorogo).

Visit us at:
Website : www.iainponorogo.ac.id
Facebook : IAINPonorogo
Instagram : @humas_iain_ponorogo
Twitter : @Ponorogo_IAIN

Bedah Buku oleh Dua Doktor. (Bedah Buku Berkala Pasca Sarjana IAIN Ponorogo)

 

Jumat siang menjelang sore, 11 Oktober 2019. Hari dimana matarahari berada tegak lurus di dengan garis khatulistiwa. Kehangatan tampak dalam ruangan aula Pasca Sarjana IAIN Ponorogo, senada dengan suasana luar yang terik. Dilangsungkan acara bedah buku oleh Pasca Sarjana IAIN Ponorogo. Bedah buku yang rutin dan berkala setiap semesternya ini membedah 2 buku langsung yang telah ditulis oleh dua orang doktor dari dua IAIN berbeda.

Yang pertama adalah buku karya Dr. Islah Gusmian, M.Ag. dengan judul “Tafsir Al-Quran dan Kekuasaan di Indonesia”. Doktor yang keseharian aktif di IAIN Surakata ini menyuguhkan tentang peneguhan, kontestasi, dan pertarungan wacana tafsir Al-Quran  pada era Orde baru, disebut brliau sekitar tahun 60 an akhir sampai pada sebelum akhir 200an ini. Era dimana kekuasaan ekonomi, politik , dan pemerintahan dikuasai dan dikontrol oleh pemerintah.

Islah Gusmian menjelaskan, dalam masa order baru muncul beberapa tafsir Al-Quran yang mengandung sikap terhadap pemerintah orde baru. Sikap yang dimunculkan dalam tafsir bisa bersifat kritik, medukung, atau diam. Sebagai contoh, dalam tafsir yang ditulis Kiai Misbah, adik dari Mustofa Bisri ,memaparkan  tafsir yang mengkritik Keluarga Berencana KB. Sebuah program yang giat digencarkan oleh pemerintah pada saat itu. KB sendiri bahkan menggunakan pesantren sebagai tangan panjang pemerintah untuk mensukseskan .Selain itu pada sekitaan  tahun 97 an, juga ada sebuah kritik oleh Syu’bah Asa yang dimuat pada Majalah Panji Masyarakat, “Dalam Cahaya Al Quran”. Isi tafsir tersebut mengkritik bagaimana orde baru melakukan tindak kekerasan yang disembunyikan.  dalam tafsirnya menanyakan korban-korban yang selama ini berjatuhan di era orde baru.

Secara keseluruhan, Islah Gusmian ingin menggambarkan sikap tafsir terhadap masa orde baru, “menafsirkan Al-Qur’an bukan hanya soal membaca, menafsirkan Al-Quran adalah menganalisa sosial politik yang tejadi pada masa itu, menafsirkan juga untuk memberikan pendapatnya tentang keadaan social yang terjadi” demiakian kata Islah.

Buku berikutnya yang dibedah adalah buku dari Doktor Aksin Wijaya. Dalam bukunya, Direktur pascasarjana IAIN Ponorogo tersebut menjelaskan hubungan antar umat beragama, hubungan agama dengan pemerintah, dan juga hubungan yang terjadi sesama Islam. Buku yang diberi judul Kontestasi Islam di Indonesia, dari Berislam secara Teologis ke Berislam secara Humanis. Doktor yang identik dengan blangkon di kepalanya ini menjelaskan mengenai pendapat bahwa semua agama samawi itu sama, esensi semuanya yaitu satu. Tuhannya sama dengan Tuhan Islam dan juga menghubungkan bahwa Islam yang dibawa Muhammad sama dengan agama yang dibawa oleh Ibrahim.

Setelah kedua pembedah buku menjelaskan mengenai bukunya, kemudian acara dilanjutkan dengan tanya jawab oleh peserta. Terdapat beberapa penanya yang tajam yang menambah mensriknya acara bedah buku sore itu.

(Humas IAIN Ponorogo)

 

Visit us at:
Website : www.iainponorogo.ac.id
Facebook : IAINPonorogo
Instagram : @humas_iain_ponorogo
Twitter : @Ponorogo_IAIN

 

Weni Tria (IAIN Ponorogo) Memaparkan Jurnalnya Mengenai Kenakalan Remaja dalam AICIS 2019

 

Kenakalan remaja, saat ini mendapat banyak perhatian lebih dari masyarakat umum, mengingat seringkali dijumpai dalam kehidupan bermasyarakat. Terdapat berbagai kenakalan remaja, mulai dari yang bersifat wajar karena memang dalam masa pubertas, tetapi tidak sedikit kenakalan remaja yang dinilai melampaui batas, seperti pembunuhan atau pemerkosaan. Banyak faktor yang memengaruhi kenakalan remaja, yang salah satunya ialah merenggangnya hubungan dengan orang tua.

“Orang tua dapat semakin memperburuk suasana ketika melalui berbagai pertanyaan yang dibalut dengan kemarahan dan tidak mau mendengar alasan si anak. Komunikasi satu arah dan bersifat menggurui dapat menjadikan remaja tidak memasukkannya sebagai alternatif pemecahan masalah,” tutur Weni Tria Anugrah Putri, M.Pd (IAIN Ponorogo) ketika mempresentasikan hasil penelitiannya yang berjudul “Slipping Moral Massages Through the Islamic Novel ‘Kidung Volendam’ with Possitive Parenting Support in Early Millennial Adults” di paralel session AICIS 2019 di Jakarta, Kamis (03/10).

Weni Tria Anugrah Putri, M.Pd yang juga merupakan salah satu dosen di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FATIK) di IAIN Ponorogo ini adalah salah satu pembicara dalam pannel session tersebut. Selain Weni, terdapat pembicara yang berasal dari kampus lain, seperti Nur Syamsi, M.Pd (IAIN Samarinda), Dr. Alimul Muniroh, M.Ed (IAI Tarbiyatut Tholabah Lamongan), Wahidah Zein Br Siregar, MA., Ph.D (UIN Sunan Ampel Surabaya) dan di pandu oleh Dr. Moh. Dahlan, M.Ag (IAIN Bengkulu).

Weni Tria Anugrah Putri, M.Pd menganggap, ketika anak semakin tertekan dan kehilangan kendali, ketika ia dimarahi orang tua, ia akan cenderung diam dan ingin menjauhi permasalahannya, meskipun hal tersebut akan membuat permasalahannya semakin bertambah apabila ia mendapatkan masukan untuk menyelesaikan permasalahannya dari orang lain yang cenderung bersikap negatif. (Humas IAIN Ponorogo)

Visit us at:
Website : www.iainponorogo.ac.id
Facebook : IAINPonorogo
Instagram : @humas_iain_ponorogo
Twitter : @Ponorogo_IAIN

Puritanisme dalam Pesantren Virtual ( AICIS 2019 )

 

Selama ini, pesantren yang awalnya didefinisikan sebagai tempat untuk menuntut ilmu agama Islam, yang lokasinya dapat kita ketahui dan dapat kita jangkau, terdapat kiai atau ustad, dan tentunya juga terdapat santri yang belajar di pesantren, kini sedikit bergeser seiring perubahan pesantren secara global. Kini terdapat Pesantren Virtual, yang mengangkat tema puritanisme dan keluar dari karakter asasi pesantren.

“Saya kira, pesantren virtual itu karena merespon perkembangan, tapi ketika berhasil merespon perkembangan global, sehingga karakter yang dimilik pesantren menjadi hilang. Dan pengangkatan tema-tema puritanisme justru akan mengendorkan nilai-nilai pesantren yang selama ini ada,” ujar Dr. Mukhibat, M.Ag ketika memaparkan hasil penelitiannya yang berjudul Strengthenging the Vision of Virtual Pesantren in Continuing Locality, Nationality, and Globality (Mempertegas Visi Pesantren Virtual dalam Merajut Lokalitas, Nasoinalitas dan Globalitas) dalam paralel session di acara AICIS 2019 di Jakarta, Kamis lalu (03/10).

Dr. Mukhibat, M.Ag menganggap puritanisme dalam pesantren virtual ini sebagai permasalahan yang besar. Permasalahan utamanya bukan dari sumber ilmunya, karena ilmu bisa didapat dari mana saja. Persoalan utamanya yaitu terdapat pada sikap atau perilaku beberapa santri virtual, karena tidak mendapat bimbingan langsung dari kiai atau ustad, sehingga mereka menganggap apa yang dipahaminya benar dan cenderung memyalahkan kelompok-kelompok lain.

Kemudian Dr. Mukhibat, M.Ag menegaskan bahwa karakter asasi pesantren yang tasamuh, tawazun dan tawasuth harusnya menjadi nilai dasar pengembangan pesantren. Pesantren virtual itu sah dan diperbolehkan karena memang perkembangannya seperti itu. Posisi inilah yang menyebabkan posisi pesantren menjadi ambigu, antara mempertahankan tradisi dengan mengikuti perkembangan zaman. Kalau pesantren lepas kontrol dan mengikuti perkembangan zaman, yang terjadi adalah pesantren-pesantren virtual.

“Pesantren konvensional yang dimana kita belajar agama dan belajar cara hidup beragama, tidak bisa digantikan dengan pesantren virtual. Maka nalai-nilai lokalitas, globalitas dan nasionalitas harus menjadi ideologi bagi pesantren. Karena kalau tidak, akan muncul pesantren-pesantren virtual dan mengajarkan berbagai macam ilmu yang tidak ada kontrol” tambah Dr. Mukhibat, M.Ag dalam akhir presentasi tentang hasil penelitiannya yang dipandu oleh Nurul Azizah. Selain menghadirkan Dr. Mukibat, M.Ag, juga terdapat pemateri dari kampus lain, seperti Suliswiyadi (Universitas Muhammadiyah Magelang), Muhammad Armoyu (Universitas Ibrahimy, Situbondo), dan Harjoni Desky (IAIN Lhokseumawe, Aceh).

(Humas IAIN Ponorogo)

 

Visit us at:
Website : www.iainponorogo.ac.id
Facebook : IAINPonorogo
Instagram : @humas_iain_ponorogo
Twitter : @Ponorogo_IAIN

Al-Qur’an dan Kontestasi Perebutan Kebenaran Islam ( Book Review AICIS 2019 )

 

Ada ayat-ayat al-Qur’an yang terkesan kontradiktif, yakni al-Baqarah: 62 dan Ali Imran: 85. Akibatnya lahir pemahaman beragam tentang Islam. Pemahaman mainstream selama ini “Islam” adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saja dengan (Ali Imran: 85), di sisi lain, al-Qur’an menyebut “Islam” sudah ada sebelum kehadiran nabi Muhammad, dan dianut oleh semua Nabi (al-Baqarah: 62). Pemahaman terhadap dua ayat ini mempengaruhi pemahaman masyarakat tentang sikap al-Qur’an terhadap penganut agama di luar agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad, terutama Yahudi dan Nasrani. Berdasar latar belakang ini Buku Aksin hendak membahas dua masalah utama, yakni:  esensi Islam dan sikap al-Qur’an terhadap Yahudi dan Nasrani.

Paparan di atas adalah narasi awal Dr. Aksin Wijaya, M.Ag.  saat mengisi acara Book Review dalam Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-19 di Jakarta, Rabu 2 Oktober 2019. Dr. Aksin Wijaya yang juga Direktur Pascasarjana IAIN Ponorogo adalah salah satu pembicara dalam acara Book Review tersebut. Bukunya yang berjudul Kontestasi Merebut Kebenaran Islam di Indonesia disandingkan dengan karya dari kampus lain, yaitu Islah Gusmian (IAIN Surakarta), Tafsir Al-Qur’an & Kekuasaan di Indonesia, dan Abad Badruzaman (IAIN Tulungangung), Dialektika Langit dan Bumi.

 

Meski banyak on stage discussion atau pembagian banyak venue dengan beragam topik diskusi, bedah buku Aksin dan dua penulis lainnya mendapatkan banyak perhatian pengunjung. Besar kemungkinan ini disebabkan karena buku Aksin dinilai sensitif dan merupakan topik kontroversial dalam wacana keislaman di Indonesia.

Di antara yang kontroversial itu, berdasar tuturan Aksin adalah bahwa al-Qur’an mendahulukan sikap apresiatifnya terhadap penganut Yahudi dan Nasrani. Mereka merupakan bagian dari monoteisme Islam dan hanifiyah Ibrahim. Perbedaan di antara ketiganya hanya berkaitan dengan persoalan-persoalan yang bersifat furu’iyah, bukan ushuliyah, baik akidah maupun syari’ah. Karena itulah, al-Qur’an mengajarkan umatnya agar bersikap toleransi kepada Yahudi dan Nasrani, bersikap bijak, memberi nasehat yang baik, dan jika pun harus berdialog, maka berdialoglah dengan cara yang paling baik “ahsan”.

Di akhir paparan Aksin terlihat beberapa peserta mengajukan pertanyaan kritis. Di antaranya adalah, jika Aksin, penulis buku, melakukan kritik terhadap nalar dikotomik dalam memahami Islam Islam, apakah penulis sendiri tidak terjebak pada nalar yang serupa. Pertanyaan lain berkaitan dengan apa makna kebenaran dalam buku tersebut, kebenaran pada level apa yang dimaksud, teologis, etis atau epistemologis. Semua pertanyaan dijawanb secara baik oleh Aksin.

WISUDA SARJANA DAN PASCASARJANA IAIN PONOROGO PERIODE I SEMESTER GASAL TAHUN AKADEMIK 2019/2020

Institut Agama Islam Negeri Ponorogo ( IAIN Ponorogo ) mengadakan acara Rapat Terbuka Senat wisuda Sarjana dan Pascasarjana Periode I Semester Gasal Tahun Akademik 2019/2020, Sabtu 28 September 2019 bertempat di Graha Watoe Dhakon IAIN Ponorogo, di Jalan Pramuka No 156 Ponorogo. Sejak pagi sudah nampak ramai lokasi wisuda ini dengan raut-raut wajah gembira dari para wisudawan dan juga wali mahasiwa yang datang menyaksikan putra-putri kesayangannya yang diwisuda hari ini.

Tercatat, jumlah wisudawan IAIN Ponorogo periode ini adalah 406 wisudawan, terbagi atas magister dan sarjana.  Dimana terinci program magister terdiri atas 3 magister yaitu Program Studi Ekonomi Syariah, 12 magister Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, 1 magister Program Studi Hukum Keluarga, dan 6 magister Program Studi Pendidikan Bahasa Arab.

Sedangkan dari sarjana yaitu terdiri dari 4 Fakultas. Di mana  49 sarjana dari Fakultas Syariah, yang terdiri dari 14 sarjana dari Jurusan Hukum Keluarga Islam dan 35 sarjana Jurusan Hukum Ekonomi Syariah. Selanjutnya, 268 sarjana dari Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dengan rincian 119 sarjana dari Jurusan Pendidikan Agama Islam, 41 sarjana Jurusan Pendidikan Bahasa Arab, 65 sarjana Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, 19 sarjana Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, 12 Sarjana Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini, dan 12 sarjana Jurusan Manajemen Pendidikan Islam. Selanjutnya, ada 20 sarjana dari  Fakultas ushuludin Adab dan Dakwah yang terdiri atas 4 sarjana Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dan 16 sarjana Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Kemudian ada 27 sarjana dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam dengan rincian 10 sarjana dari Jurusan Ekonomi Syariah dan 37 sarjana dari Jurusan Perbankan Syariah.

Acara wisuda dibuka dengan rombongan senat beserta panji-panji IAIN Ponorogo memasuki ruangan, dilanjutkan dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Rangkaian acara wisuda dilanjutkan sebagaimana upacara pemberian selamat kepada wisudawan dan wisudawati. Dalam rangkaian acara tersebut juga diberikan pemberian penghargaan kepada wisudawan terbaik dari setiap fakultas. Pemberian penghargaan langsung diberikan oleh Rektor IAIN Ponorogo, Ibu Dr. Hj. S. Maryam Yusuf, M.Ag. Penghargaan Wisudawan Terbaik diberikan kepada:

  • DOMI CAHYO DAMAI, M.E. dari Program Pascasarjana.
  • FARIDATUL ISLAHIYYAH, S.H. dari Fakultas Syari’ah.
  • SANG’ADAH, S.Pd. dari Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan.
  • ERWANDA SELVIANA, S.Sos. dari Fakultas Ushuludin, Adab, dan Dakwah.
  • DIAS YOANTIKA, S.E. dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.

 

Acara dilanjutkan dengan ucapan kesan dan pesan yang diwakilkan oleh Domi Cahyo Damai, M.E. Kesan dan pesan pertama yang diungkapkan adalah rasa terimakasih kepada semua pihak yang telah melaksanakan acara wisduda ini. Lebih lanjut saudara Domi mengungkapkan Apa yang kita peroleh dari gelar ini merupakan gelar duniawi, yang nantinya akan menolong kita di akhirat kelak, karena semua ini akan kita pertanggungjawabkan.” Kemudian tak lupa rasa terimakasih terbanyak dihaturkan kepada orang tua karena semua ini tidak akan terwujud tanpa adanya dorongan dan doa dari orang tua kita semua. Tepuk tangan riuh nampak diberikan kepada semua yang hadir dalam ruangan itu atas kesan dan pesan yang begitu menyentuh.

Pada kesempatan ini juga dihadiri oleh perwakilan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Ponorogo, yang kali ini diwakili oleh Wakil Bupati Ponorogo, Drs. H. Soedjarno, MM. Dalam sambutannya beliau mengucapkan selamat kepada semua Civitas Akademika IAIN Ponorogo yang telah sukses atas terselenggarakannya proses wisuda periode ini. Tak lupa diucapkan selamat kepada orang tua dari mahasiswa mahasiswi yang pada pagi ini putra putrinya telah diwisuda. Kepada para wisudawan beliau berpesan, “Semoga para wisudawan agar dapat mengabdi kepada masyarakat untuk dapat mengamalkan ilmu yang telah diperoleh dari perkuliahan selama ini”. Pada akhir sambutannya, Bapak Wakil Bupati mendoakan semoga secepatnya IAIN dapat menjadi UIN, sesuatu yang didambakan oleh semua pihak.

Acara dilanjutkan dengan Amanat rektor IAIN Ponorogo, ibu Dr. Hj. S. Maryam Yusuf, M.Ag. Dalam pembukaan amanatnya beliau memaparkan wisuda IAIN Ponorogo dalam setahun terjadwal melakukan sebanyak 4 kali. Dalam kesempatan ini mahasiswa yang diwisuda sebanyak 406 wisudawan. Selanjutnya beliau memberikan selamat kepada para wisudawan dan wisudawati yang telah diwisuda pada hari ini, “ Semoga ilmu yang telah diberikan menjadi berkah dengan disumbangkannya ilmu ini kepada masyarakat”.  Agar para wisudawan dan wisduwati dapat terus belajar, baik untuk meningkatkan ke taraf S2 maupun terus belajar di kampus kehidupan. “Selamat jalan dan semoga sukses, amin. Selalu tegakkan Pancasila dan berpedoman bahwa NKRI Harga Mati”. Itulah pesan penutup dari ibu rector kepada wisudawan dan wisudawati. Pesan yang selalu beliau berikan di banyak kesempatan, guna untuk terus mendorong Kesatuan republic Indonesia.

(Humas IAIN Ponorogo)

Visit us at:
Website : www.iainponorogo.ac.id
Facebook : IAINPonorogo
Instagram : @humas_iain_ponorogo
Twitter : @Ponorogo_IAIN

Translate »